Ruang tunggu klinik
itu masih penuh pengunjung. Aku duduk di salah satu sudut bersebelahan dengan
seorang wanita seusiaku. Rasa letih yang amat sangat dan linunya persendian
ditingkah pula oleh pening di kepala yang semakin terasa berat. Wangi parfum
dari wanita muda di sebelahku menghentak-hentak rasa mual dalam perut ini.
Syukurlah namaku segera dipanggil oleh seorang perawat yang manis. Segera aku
masuk ke ruang kerja dokter. Seraut wajah tegar menyambutku dengan senyum
tipis. Aku pun duduk di kursi seberang meja berhadapan dengannya.
" Nyonya A ?" tanyanya. Aku mengiyakan. " Saya sudah lihat hasil laboratoriumnya , nyonya positif." Lanjutnya pula." Bagaimana dok ?" tanyaku berharap ketegasan. " Anda hamil." Disebutkannya usia kandunganku yang rupanya sedang dalam masa emesis.Oh alangkah sulitnya kuungkapkan perasaan hatiku ketika itu. Bertahun-tahun aku menantikannya.
" Nyonya A ?" tanyanya. Aku mengiyakan. " Saya sudah lihat hasil laboratoriumnya , nyonya positif." Lanjutnya pula." Bagaimana dok ?" tanyaku berharap ketegasan. " Anda hamil." Disebutkannya usia kandunganku yang rupanya sedang dalam masa emesis.Oh alangkah sulitnya kuungkapkan perasaan hatiku ketika itu. Bertahun-tahun aku menantikannya.
Tuhanku, hanya
sebaris kalimat syukur meluncur dari bibirku yang bergetar menahan haru. Dengan
cermatnya sang dokter memeriksaku. Sedemikian telitinya hingga aku merasa
begitu lama waktu merayap. Akhirnya dokter yang cekatan itu mengatakan bahwa
keadaanku normal-normal saja. Begitu pula janin yang kukandung. Diberinya aku
resep vitamin dan pelancar metabolisme. Aku pulang dengan rasa bahagia yang tak
terkata. Hilang rasa letihku. Hilang segala rasa sakit dalam tubuhku terhapus
oleh rasa bahagia menyadari hadirnya buah hati dalam rahimku.
Setiba di rumah,
kutumpahkan rasa bahagiaku dalam sujud syukur di hadapan Yang Maha
Tinggi.Sungguh karunia-Nya tak pernah putus-putusnya menyirami hidupku.Ilahi,
kalau bukan karena Engkau tak mungkin kukenal shalat, tak mungkin kukenal
hidayah dan ni’matnya beribadah kepada Engkau. Segala puji hanyalah
bagi-Mu.Suamiku,Kunantikan engkau pulang dengan hati girang. Ingin kukabarkan
segera berita gembira ini. Kutahu telah sekian lama kau nantikan berita ini
terucap dari bibirku. Aku pun hampir tak sabar menanti.Namun hingga senja hari
lewat kau belum juga kembali.
Hidangan yang telah
kusiapkan mulai menjadi dingin. Kuhibur hatiku barangkali engkau sedang
menghadapi banyak pekerjaan. Kusibukkan pikiranku dengan tadarus Qur’an dan
wirid ma’thurat. Semoga engkau tetap dalam lindungan Allah.Menjelang Isha
barulah engkau pulang. Dalam kepenatan kutangkap kilatan cahaya dari sepasang
matamu yang teduh. Bersinar kemilau namun sulit untuk kutafsirkan. Lalu dengan
lembut engkau minta maaf karena terlambat pulang. Ada urusan penting rupanya
hingga engkau tertahan sekian lama. Buatku sendiri, melihat dirimu saja sudah
cukup menenteramkan perasaanku, menghapus penantian yang terasa amat panjang.
Hanya saja melihat engkau letih begitu, kuurungkan niatku untuk menyampaikan
berita itu. Biarlah kutunggu hingga hilang penatmu, kunanti hingga engkau segar
kembali …
Usai shalat ‘isha
berjamaah, engkau mengajakku berbicara. Ketika itu fahamlah aku kilat bahagia
apa yang bersinar di matamu saat kau pulang tadi. Ini adalah momen yang sangat
penting dalam hidupku. Dapat kurasakan kebahagiaanmu dan akupun bahagia pula
karenanya. Namun, tiba-tiba serasa ada yang menghentak dalam dadaku.
Sesungguhnya apa yang kau katakan adalah ikrar dan cita-cita kita sejak lama.
Tetapi saat ini aku merasakannya sebagai sesuatu yang teramat berat. Aku
memerlukan segunung ketabahan dan kekuatan iman !Perasaan manusiawiku kepadamu
sungguh tak dapat kugambarkan bagaimana. Meski begitu aku menyadari kecintaan
kepada Allah harus kutempatkan di atas segalanya. Apa yang ada padaku saat ini
bukanlah milikku.
Karunia Allah
sajalah yang membuatkku dapat merasakan ni’matnya iman dan islam di sisimu. Dan
kini, mestikah kutahan-tahan apa yang bukan milikku ketika Sang Pemilik
memintanya ?Tetapi, haruskan kulepaskan kebahagiaan yang baru saja kurasakan ?
Haruskah ???Suara gemuruh bertalu-talu seperti hendak memecahkan dadaku.
Bertarung antara suara hati nuraniku melawan emosi dan nafsu. Antara keikhlasan
dalam cinta kepada-Nya dan cinta manusiawiku kepada suami dan anakku yang belum
lagi terlahir.Ilahi, mestikah aku kehilangan saat-saat bahagia yang tengah
kugenggam dengan merelakan suamiku pergi yang entah kapan akan kembali atau
bahkan tidak akan pernah kembali lagi ...?Dan anakku, ia akan menjadi yatim
sebelum sempat memandang wajah ayahnya.Lalu, bagaimanakah akan kuhadapi hidup
ini tanpa dirinya lagi, tanpa bimbingan dan perlindungannya ?Sanggupkah aku
???Di puncak pergulatan batin, saat itulah gelegar dahsyat menghentikan bisikan
iblis dalam batinku bagai suara guntur mengatasi gemuruh hujan………..
" Dan di
antara manusia ada orang yang mengorbankan dirinya karena mencari keridhaan
Allah, dan Allah Maha Penyantun kepada hamba-hamba-Nya……"" Katakanlah
: jika bapak-bapakmu, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum
keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri
kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai lebih kamu cintai
daripada Allah dan Rasul-Nya dan jihad di jalan-Nya maka tunggulah sampai Allah
mendatangkan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang
fasiq…
"Bagai canon
menghancurkan dinding konstantinopel, rontoklah bayang-bayang ego-ku. Batu
karang di lautan jiwa ini luruh berkeping-keping. Aku tersadar dalam pemahaman
yang segar tentang hakikat cinta.Ya Allah, wahai Kekasih, asal Engkau tidak
tinggalkan aku dalam lautan cinta ini, asal Engkau tidak murka padaku, aku
tidak peduli !Hanya keselamatan dari-Mu lebih melapangkan hati hamba-Mu ini.
Aku berlindung dengan nur wajah-Mu yang menerangi kegelapan dan menjamin
kebaikan di dunia dan akhirat dari amarah-Mu yang akan menimpa diriku dan
murka-Mu yang akan membinasakanku.
Kumohon ridha-Mu
sampai kuperolehnya.Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan-Mu juga …….Ada rasa
lapang di dada. Kubiarkan hawa kepasrahan mengisi paru-paru. Duka kali ini
terasa begitu manis. Ada rasa sesak yang terangkat ketika malaikat membukakan
pintu langit. Saat kau bertanya bagaimana pendapatku; dengan mantap kukatakan
padamu :" Bukankah sejak kita menikah telah kita ikrarkan bahwa perkawinan
ini adalah bagian dari perjuangan ? Telah kita tetapkan syahid di atas
keingininan yang lainnya, ingatkah kau ?Kini, apakah aku akan menghalangimu
untuk menggapai cita-cita kita itu ?
Tidak, bang Jundi.
Karunia Allah yang diberikan kepada kita dalam Iman dan Islam jauh lebih besar
ketimbang pengorbanan yang harus kita lakukan saat ini. Benar, kasihku padamu
tak terhingga besarnya. Namun itu semua karena cinta kepada Allah jua.
Berangkatlah, bang. Insha Allah saya akan tabah. Hanya saja tolong doakan agar
saya teguh hati meniti perjalanan hidup ini hingga Allah mempertemukan kita
kembali di akhirat kelak….
"Usai berkata
begitu kumintakan maafmu kalau-kalau selama kita bersama terdapat sikapku yang
kurang kau sukai. Engkau hadiahi aku dengan senyum penuh makna. Takjub aku akan
akhlakmu. Engkau begitu memuliakanku selama ini padahal aku bukanlah orang yang
pantas menerima kehormatan seperti itu. Pedih hati ini mengingat cacat-celaku,
namun terobat perasaanku ketika engkau katakan bahwa engkau sangat berharap doa
dariku.Malam merayap perlahan. Rembulan tersenyum lembut ketika kusibak tirai
jendela kamar. Aku masih terjaga ketika engkau telah terlelap dalam letihmu
setelah seharian bekerja.
Dalam hening
kutatap wajahmu, kukirim sebait doa yang tumpas di kesunyian.Suamiku, sungguh
kasih sayang Allah yang tak terhingga ketika mempertemukanmu kepadaku sebagai
suami yang begitu bersih buatku. Ketika itu aku tengah tersaruk-saruk
meninggalkan masa-masa kebodohan. Tanganku menggapai-gapai mencari pokok tempat
bergantung. Ketika itulah atas takdir Allah tangan kokohmu menyambutku,
membimbingku dari alam ketidakpastian ke dalam cahaya Islam yang cemerlang.
Kaubawa aku dalam hidup penuh makna di bawah bimbingan rabbanimu. Kauluruskan
cara berfikir, berasa dan bertindakku selaras dien yang hanif ini.Lalu kau
arahkan aku agar dapat berjalan sendiri.Hidup bersamamu bukannya dalam taburan
madu. Aku sering kau tinggalkan ketika tugas mewajibkanmu untuk pergi. Namun
itulah cara terbaik bagiku. Dengan begitu sandaranku kepada Allah menjadi lebih
kokoh. Dan kini kau akan meninggalkanku untuk cita-cita tertinggimu. Firasatku
mengatakan kau tak akan kembali ….
Sesaat aku teringat
anak kita. Ah anak kita. Aku belum sempat lagi mengabarkannya kepadamu. Semoga
ia mewarisi sifat baikmu. Apakah yang harus kuperbuat kini ?Dalam doa yang
kudus kumohon pertolongan dari-Nya. Kuhapus air mata yang menetes agar tak
sempat terlihat olehmu.
Namun, ikatan batin
kita demikian kuatnya, melampaui dimensi ruang dan waktu, mengatasi mimpi indah
yang mengabarkan suara hati dari lubuk jantung yang paling dalam.Tiba-tiba saja
engkau terjaga dari lelapmu. " Adakah yang ingin dinda katakan ?"
suaramu lirih seperti desir angin menyibak padang ilalang.Mestikah kukatakan
kepadamu tentang si kecil yang denyut kehidupannya mulai berlagu dalam rahimku
?Wahai suamiku, bukan aku ragu akan keteguhanmu bila mendengar kabar ini sebab
aku percaya engkau seorang yang istiqamah. Hanya saja aku ingin menutup serapat
mungkin pintu fitnah yang dapat kutimbulkan terhadapmu dariku dan anak kita …..
Tetapi dapatkah
kusembunyikan hal ini darimu ? Apakah keterjagaanmu merupakan isyarat dari
Allah? Dan bukankah inipun merupakan satu bentuk ujian dari-Nya ?Kudekati
dirimu. " Bang Jundi." Panggilku. " Janganlah apa yang akan saya
sampaikan ini menjadikan penghalang dari langkah yang telah abang
putuskan."Engkau tersenyum tanpa mengurangi perhatianmu akan
kata-kataku." Insha Allah sepeninggal abang nanti saya tidak akan merasa
sendirian….sebab senantiasa ada Allah dan… ada jundi kecil yang akan saya jaga
sebaik-baiknya …" kataku. Hening sesaat. Sejenak kulihat kau tertegun. Aku
mengerti perasaanmu. Bukankah sudah lama kau nantikan hadirnya buah cinta kita
?" Abang,…" sambungku ," bukannya saya sangsi akan keteguhan
hati abang, tapi karena saya tidak ingin isteri dan anakmu ini menjadi fitnah
bagi tekad suci kita. Abang tak boleh surut melangkah. Jangan abang risau
karena masih ada saya yang akan membesarkan anak kita …dan ada Allah yang akan
melindungi kami selalu….." Aku berusaha untuk tetap tegar.
Kusingkirkan
jauh-jauh perasaan iba-kewanitaanku yang kutahu menjadi titik lemahku.Kau
rengkuh aku penuh kasih sayang. " Dinda," ujarmu, " engkau
adalah sebaik-baik ni’mat yang Allah anugerahkan pada ku….."Ah suaramu itu
begitu sejuk seperti percik air surga. Ada rasa damai di hati.Ada rasa hangat
menyelinap di relung-relung jiwa …..Tengah malam belum lagi lewat ketika kita
berdua sama-sama bersujud menghadapkan wajah dan hati kita kepada Allah.
Semburat nur Ilahi serasa meliputi kita berdua.Suamiku, tidak lama setelah itu
engkau benar-benar berangkat….menuju bumi jihad.Ambon manise hingga kini masih
menangis. Bumi Aceh sudah lama merintih. Belum lagi lagu lama di Palestina,
Bosnia, Kosovo, Moro, Azerbaijan, Chechnya dan belahan bumi lainnya yang
menjerit ditikam pisau kezaliman.Berangkatlah, kekasih. Jangan biarkan serdadu
thaghut itu merobek jantung orang-orang yang lemah dan anak-anak yang tak
berdosa. Bila teringat anak kita, ingat-ingatlah bahwa di sana lebih banyak lagi
anak-anak yang terpaksa lahir sebelum waktunya. Dahsyatnya perang membuat
mereka harus cepat dilahirkan…….
Sementara itu usia
anak kita makin bertambah jua. Gelinjang halus bagai semangat yang menyelinap
ke seluruh sel tubuhku.Mulai terasa ia bergerak dan menendang-nendang dengan
gagahnya seperti kau… yang dengan gagahnya menyerbu musuh di medan-medan
pertempuran.Allahu Akbar !Suamiku, rinduku padamu bukanlah keinginan untuk
bermesra dan memadu kasih, tapi …aku rindukan suasana beribadah bersamamu. Ingin
shalat di belakangmu, ingin mencium tanganmu , meminta maaf dan berdiskusi
denganmu sebab setiap kata yang terucap dari bibirmu adalah tarbiyah bagiku dan
memberiku kekuatan ketika aku kau tinggalkan…
Bila rindu datang
mengganggu, kubuka kembali buku-bukumu. Terhibur hati ini. Kurasakan
seolah-olah kau hadir di sisiku. Namun terkadang bisikan yang tak kuingini
datang juga. Betapa pintarnya syetan mencari jalan untuk melemahkanku. Teringat
aku akan kata-katamu bahwa cinta Allah mengatasi segalanya. Akupun bermunajat
kepada Allah agar diberi kekuatan dan ketabahan dan semoga Ia mengampuniku.Bang
Jundi, tujuh bulan usia anak kita dalam rahimku ketika suatu malam aku bermimpi
berjumpa denganmu. Kau nampak sangat elok dan bercahaya. Kulihat rembulan di
atasmu, kupandang bergantian antara kau dan rembulan namun kau nampak lebih
indah…… bahkan bintang-bintang pun tak dapat menandingi parasmu.
Aku terjaga. Hilang
segala sedih dari hatiku. Sejuk perasaanku. Aku pun bersujud memohon barakah
Allah atasmu.Esok harinya seisi rumah kita nampak bercahaya kemilau. Benderang
luar biasa. Semerbak wangi membuatku terheran-heran. Wanginya…sulit untuk
kukatakan. Belum pernah kucium wangi seharum ini.Sahabat-sahabatku di jalan
Allah yang berta’lim di rumah kita ribut saling bertanya satu sama lain. Tiada
seorangpun di antara kami yang memakai parfum !Baru kudapat jawabnya ketika
Ayah dan seorang sahabatmu berta’ziah ke rumah. Ya, engkau sudah berada di
tempat yang jauh …….Tidak, kekasih. Tidak patah semangatku dengan kepergianmu. Aku
tahu engkau telah menepati janji.Engkau tidak mati! Engkau tetap hidup!!!!!
" Dan
janganlah kamu mengatakan kepada orang-orang yang gugur di jalan Allah,mati ;
bahkan mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya …."" Di
antara orang-orang mu’min itu ada para rijal yang menepati apa yang mereka
janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur ada pula yang
menanti-nanti (giliran) dan mereka sedikitpun tidak mengubah janjinya."
Selamat jalan, bang Jundi. Nantikan aku di sana. Kepergianmu adalah satu
kepastian. Kini, ujian dan derita yang mesti kuhadapi tidak lagi kurasakan
sebagai luka namun bagai angin sejuk yang menyegarkan semangat juangku.
Hari-hari berlalu dalam deru semangat yang tak pernah pupus. Saat kelahiran
anak kita kian dekat. Nyeri yang hebat mulai melilit-lilit dalam perutku. Aku
tak bisa lagi berjalan. Hari itu kubaca surah Yusuf, surah Maryam, surah Luqman
dan surah Muhammad berulang-ulang. Kuhadiahkan buat anak kita yang bakal lahir.
Tak jadi soal laki-laki atau perempuan. Yang terpenting ia berakhlak mulia dan
menjadi anak yang shalih yang bakal menyambung tugas para nabi, menyebarkan
syi’ar Islam di muka bumi ini.
Ya Allah, tabahkan
hatiku. Semoga dosaku akan turut terhapus dengan lahirnya anak dalam
kandunganku ini ……………….Ketika saatnya tiba, sahabat-sahabat kita yang tulus
membawaku ke rumah sakit. Jerit si buyung yang lahir memecah jagat raya….pekik
tangisnya menghapus segala rasa sakitku. AlhamduliLlah dia selamat. Dia tampan
dan gagah sepertimu…..…dia rijal sepertimu.Saat kutatap anak kita, hatiku
tiba-tiba rawan. Sanggupkah aku menjadi ibu yang baik ???Akupun berbisik
padanya ," Wahai ananda, janganlah kau ikuti sifat ibumu yang buruk.
Milikilah sifat yang terpuji. Engkau adalah harta yang paling berharga….."
Kucium ia penuh kasih disaat tangis pertamanya memecah bumi.Kunamai anak kita
dengan nama yang pernah kau sebut dulu. Semoga Allah mengabulkan doa dalam nama
yang indah itu. Suamiku,Satu langkah telah kutempuh. Beribu-ribu langkah lagi
membentang di hadapanku. Badai gelombang yang garang harus kuhadapi. onak dan
duri yang terserak sepanjang perjalanan harus kulewati. Angin puting beliung
pun harus kulampaui. Berat memang. Apalagi kuharus melangkah tanpamu. Namun
kuyakin Allah senantiasa melindungiku.
Aku tahu cinta dan
nafas perjuanganmu senantiasa mengisi hatiku. Ada rasa bangga mengenang
dirimu.Dengan ‘izzah inilah kan kubesarkan buah hati kita.Kekasihku, Satu lagi
janji harus kupenuhi. Aku ingin menghantarkan anak kita agar dapat menyusulmu.
Kuingin ia pun sampai ke gerbang kecintaan-Nya. Aku akan tetap melangkah.
Selangkah demi selangkah aku menapak. Satu langkah lagi. Ya satu langkah lagi!
( Bumi Allah yang
jauh di seberang. Mengenang gugurnya seorang sahabat,
sepuluh tahun silam.Akhi, bagaimana rasanya berjumpa Allah ?
Salam rindu dari sini. )
Buat Mas terkasih : semoga tetap bersemangat.
sepuluh tahun silam.Akhi, bagaimana rasanya berjumpa Allah ?
Salam rindu dari sini. )
Buat Mas terkasih : semoga tetap bersemangat.
Wassalamu'alaikum wr.wb.
Ema Kaysi
Ema Kaysi
Tidak ada komentar:
Posting Komentar